Energipos.com/Tambang/Korporasi

shadow

Buntut Dilarang Ekspor Mineral, Newmont Gugat Pemerintah ke Arbitrase

ENERGIPOS.COM,Jakarta—Larangan ekspor mineral akhirnya membawa sengketa internasional. Adalah PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang beberapa waktu lalu menghentikan produksi resmi melayangkan gugatan kepada pemerintah Indonesia di Arbitrase Internasional di Belanda.Sebenarnya yang mengajukan sengketa ke arbitrase adalah Nusa Tenggara Partnership B.V. (NTPBV), pemegang saham mayoritas NNT yang berkedudukan di Belanda. Perusahaan yang berkedudukan di Belanda ini menggugat ke arbitrase karena menilai larangan ekspor mineral telah merugikannya dan tidak sesuai kontrak.

“Pengenaan ketentuan baru terkait ekspor, bea keluar, serta larangan ekspor konsentrat tembaga yang diterapkan kepada PTNNT oleh Pemerintah tidak sesuai dengan Kontrak Karya (KK) dan perjanjian investasi bilateral antara Indonesia dan Belanda,” ujar Martiono Hadianto, Presiden Direktur NNT dalam siaran persnya. Dalam gugatan arbitrase yang diajukan kepada The International Center for The Settlement of Investment Disputes, mereka bermaksud agar NNT memperoleh ijin ekspor konsentrat tembaga agar kegiatan tambang Batu Hijau dapat dioperasikan kembali.Penghentian selama ini telah merugikan NNT, kontraktor serta pemangku kepentingan lainnya.

“Meski kami telah melakukan berbagai upaya terbaik selama enam bulan terakhir untuk menyelesaikan isu ekspor melalui komitmen atas dasar niat baik untuk mendukung kebijakan Pemerintah, NNT belum dapat meyakinkan Pemerintah bahwa KK berfungsi sebagai rujukan dalam menyelesaikan perbedaan yang ada,” ujar Martiono. Oleh karena itu, lanjut dia, NNT dan para pemegang saham tidak ada pilihan lain dan terpaksa mengupayakan penyelesaian masalah ini melalui arbitrase internasional. Tujuannya untuk memastikan bahwa pekerjaan-pekerjaan, hak-hak, serta kepentingan-kepentingan para pemangku kepentingan perusahaan terlindungi.

“Kami ingin agar dialog yang terus-menerus dengan Pemerintah dapat menyelesaikan masalah ini di luar jalur arbitrase.Sementara itu, kami memiliki kewajiban untuk melindungi nilai Batu Hijau dan ribuan pekerjaan terkait dengan tambang Batu Hijau, yang terhambat karena adanya pemberlakukan ketentuan-ketentuan ekspor baru tersebut,” jelasnya. Dikatakannya, tambang tembaga dan emas Batu Hijau saat ini berada dalam tahap perawatan dan pemeliharaan seiring terus dilakukannya upaya penyelesaian masalah ekspor.

Perusahaan tetap melakukan kegiatan pengendalian yang sesuai guna memastikan keamanan dan keselamatan manusia, sumber daya air, dan lingkungan hidup. PTNNT juga akan tetap menjual konsentrat tembaga ke PT Smelting Indonesia hingga akhir tahun 2014, dengan jumlah pengiriman sebanyak 58.400 ton sampai akhir tahun. Namun, PT SI memiliki keterbatasan daya tampung dan tidak dapat membeli konsentrat tembaga PTNNT dalam jumlah mencukupi yang memungkinkan tambang Batu Hijau dapat kembali beroperasi secara normal. (bob)

Baca Juga